Sabtu, 26 Juli 2014

Pecah Kongsi Koalisi Jokowi Sebelum Memerintah






Partai NasDem, PKB, Hanura, PKPI yang ada dalam koalisi, dan berjuang sejak awal bersama PDIP dalam pemenangan Jokowi-Jusuf Kalla (JK) di Pilpres 2014, harus tunduk alias mengalah kepada Partai Golkar.



Meski Golkar tidak berkeringat dalam kompetisi pemenangan Jokowi-JK di pilpres, namun capres nomor urut dua itu lebih membutuhkan keberadaan Golkar untuk mengimbangi pertarungan politik di parlemen nanti.



Pakar politik dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit mengatakan, Partai NasDem berserta partai koalisi Jokowi-JK harus rasional untuk menerima kehadiran partai berlambang pohon beringin itu.



"Harus mengalah, kalau orang yang rasional pasti akan terima (Golkar). Kecemburuan itu harus dimatikan," kata Arbi, Sabtu (26/7/2014).



Sebab, kata Arbi, jumlah kursi NasDem beserta koalisi di parlemen, tidak akan mampu untuk mengawal pemerintahan Jokowi-JK, apabila dibandingkan dengan kekuatan koalisi permanen Merah Putih.



"Persoalannya koalisi Jokowi-JK tidak bisa bertahan di parlemen, ini kebutuhan riil presiden," katanya.



Diketahui, Partai Golkar adalah runner up Pileg 2014 setelah PDIP. Golkar, memperoleh kursi di DPR sebanyak 91 kursi, setelah PDIP sebanyak 109 kursi. Sedangkan Partai Nasdem hanya berada diurutan ke 9 dengan memperoleh 35 kursi.



Menurutnya, dengan perolehan kursi di DPR, maka sangat wajar jika Golkar bakal lebih berkuasa dari beberapa partai koalisi yang sejak awal berjuang bersama PDIP di Pilpres 2014.



"Jokowi sangat memerlukan kekuatan koalisi di parlemen, yang sangat kemungkinan itu Golkar karena ada JK," tegas Arbi.





























































Sumber: inilah