Artikel oleh: Nanda dewi
Rachmatika
Bisnis property di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan, khususnya
bidang perumahan. hal ini tidak terlepas dari tingginya permintaan pasar dan
tingkat pendapatan masyarakat indonesia yang mengalami kemajuan. Berbagai tipe
dan penawaran yang disediakan oleh pihak pengembang dalam menarik perhatian
konsumen seperti uang muka yang murah, cara pembayaran yang mudah, fasilitas
disekitar perumahan yang lengkap dan masih banyak lagi. Segmen konsumen yang
diincar oleh para pengembang property bukan hanya konsumen dengan pendapatan
menengah ke atas saja, namun menyediakan hunian yang bisa dinikmati oleh
konsumen dengan pendapatan menengah kebawah.
Selain dilihat dari sisi permintaan
pasar, property juga menjadi salah
satu investasi tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Professional Property Consultant, Sanoesih menjelaskan harga
properti akan naik minimal 10 persen per tahun. Harga properti akan meningkat
bila mempunyai potensi lain. Contohnya, berada di lokasi yang bagus, lokasi
hoek, dan sebagainya. Selain itu, properti juga dapat dijadikan aset.
Contohnya, dapat dijadikan agunan untuk mengajukan kredit ke bank.
Hunian di tengah kota maupun berada di
sekitar ibukota memang dambaan setiap masyarakat di Indonesia. Kota-kota
penyangga ibukota seperti depok dan bekasi menjadi salah satu kota yang menjadi
alternatif pemilihan lokasi hunian yang jaraknya dengan ibukota Jakarta masih
dapat dijangkau dengan mudah.
National director head of strategic
jones lang lasalle, vivin harsanto mengungkapkan, kondominium mulai menyesaki
daerah bekasi, sementara depok sudah ramai dengan proyek-proyek pembangunan
perumahan. "kalau harga tanah di daerah serpong, cilandak, cipete, puri
indah, pluit, kelapa gading dan lainnya sudah cukup tinggi, sehingga pengembang
melirik bekasi dan depok,". Kondisi ini, mendorong harga tanah di bekasi
dan depok merangkak naik. Peningkatan harga tanah itu, dimulai dari
pengembangan yang dilakukan oleh pengembang besar sumarecon di wilayah bekasi.
Selain pembangunan hunian yang bersifat
horizontal atau yang memiliki halaman lebih luas (pekarangan), para pengembang
property pun mulai marak menyediakan hunian yang bersifat vertikal atau sejenis
Apartemen yang tidak membutuhkan halaman atau pekarangan.
Menurut Suwardy, Kasi Survei Pengolahan
Data dan Pemetaan Dinas Tata Kota (Distako) Kota Bekasi, mengatakan lahan
tersisa masih bisa digunakan untuk pembangunan. Untuk itu, pemerintah daerah
merekomendasikan pembangunan apartemen, sebagai alternatif di bidang perumahan.
Hal ini dikarenakan lahan yang tersedia di kota penyangga contohnya Bekasi
sudah semakin berkurang.
Biasanya suatu apartemen dibangun berada di
pusat kota selain untuk menambah kecantikan dari kota tersebut, akses menuju
fasilitas-fasilitas umum seperti pusat perbelanjaan, pusat pendidikan dan
rekreasi menjadi salah satu faktor diminatinya hunian apartemen bagi
kalangan-kalangan tertentu.Fasilitas yang tersedia di apartemen juga menjadi
daya tarik tersendiri. Sarana kebugaran seperti fitness center, kolam renang,
jogging track, taman bermain, minimarket, restoran, cafe, dan fasilitas lainnya
akan membuat penghuni apartemen tidak perlu pergi terlalu jauh untuk memenuhi
kebutuhannya. Tingkat keamanan juga lebih baik karena adanya penjagaan 24 jam
dan CCTV yang memantau, sehingga penghuni dapat lebih tenang ketika harus
meninggalkan unitnya.
Ini merupakan hal yang penting
karena sebagian besar masyarakat perkotaan yang bekerja akan lebih banyak
menghabiskan waktunya di luar, baik untuk bekerja, makan atau rekreasi. Kehidupan
masyarakat perkotaan yang sibuk dan cepat membuat pilihan untuk tinggal di
apartemen dianggap lebih praktis. Unit apartemen biasanya tidak terlalu besar,
sehingga waktu dan energi yang diperlukan untuk membersihkan ruangan tidak
terlalu banyak. Mereka juga tidak direpotkan untuk mengurus taman, sarana
pembuangan, air, atau sirkulasi udara karena sudah ada pengelola yang
bertanggung jawab akan hal itu.
Tinggal di apartemen tidak sebebas
tinggal di rumah, karena ada peraturan dari pengelola yang harus dipatuhi.
Misalnya larangan membawa binatang peliharaan. Bagi Anda yang menyukai tanaman,
Anda tidak dapat bebas menanam banyak tanaman karena tidak adanya lahan. Anda
juga harus bertimbang rasa ketika akan mendengarkan musik atau kegiatan lainnya
agar tidak mengganggu penghuni lainnya. Luas apartemen yang tidak terlalu besar
mungkin tidak disukai bagi yang telah terbiasa tinggal di rumah dengan ukuran
luas.
Apartemen juga dapat dijadikan
sebagai invetasi. Va’astu Arsitektur Studio menjelaskan, saat keinginan
memiliki apartment lebih difokuskan pada hasil investasi atau pemasukan yang
bisa didapatkan setelah memilikinya, maka saat itulah apartment berperan
menjadi alat/produk investasi yang dapat kita pertimbangkan dalam portfolio
investasi. Atau keinginan untuk memiliki apartment karena mengharapkan margin
yang cukup besar bila dijual kembali. Tambahan pemasukan dari hasil apartment
ini bisa digunakan untuk membantu mencapai tujuan keuangan lain, seperti
keinginan memiliki barang lain atau aset yang jauh lebih banyak atau untuk
sekaligus membayar pinjaman jika ternyata dananya dari meminjam. Besarnya uang
muka, suku bunga, dan cicilan juga tentu harus dihitung sebagai pertimbangan
untung rugi jika dibandingkan dengan hasil investasinya.
Setelah menentukan apartment sebagai
sebuah tujuan, maka selanjutnya adalah melakukan perencanaan yang matang
terutama untuk porsi dan implementasi keuangannya. Berikut adalah beberapa hal
yang perlu kita persiapkan sebagai strategi untuk mencapai tujuan yang dilansir
oleh Va’astu Arsitektur Studio yaitu
dengan melakukan financial check up. Karena bagaimanapun pembelian apartment
selalu datang dengan konsekuensi keuangan. Entah itu membeli dengan cara tunai
apalagi kredit, kita tetap harus menyesuaikan kondisi keuangan kita dengan
keinginan. Financial check up sendiri terdiri atas beberapa kegiatan antara
lain adalah mendaftar semua kewajiban / hutang saat ini, mendaftar seluruh
aset, dan melakukan pengecekan cash flow, mendaftar semua kebutuhan, keinginan
dan rencana masa depan beserta waktu dan prioritasnya.
Oleh: Nanda Dewi Rachmatika, Mahasiswa Alih Jenis Manajemen
IPB