Filipina 2004-2011 adalah Filipina yang hari-harinya diisi pertentangan berkepanjangan antara dua kubu masyarakat.
Sepanjang itu Gloria Macapagal Arroyo dikejar dan diminta mundur dari jabatannya karena skandal penggelembungan suara.
Oposisi menuntut pengunduran diri Arroyo karena dituduh telah berbuat curang dalam Pemilu 2004. Tuduhan ini muncul ke permukaan setelah oposisi menyebarkan sebuah rekaman tape yang berisi percakapan seorang wanita yang suaranya mirip dengan Arroyo dengan seorang pria yang diduga adalah staf dari komisi pemilihan umum.
Pihak oposisi mengatakan Arroyo mencoba untuk melakukan perbaikan kemenangan dengan selisih jutaan suara. Kongres kemudian memperdengarkan rekaman itu pada sebuah televisi nasional setempat.
Dalam rekaman itu terdengar seorang anggota komisi pusat menawarkan jumlah tertinggi hasil akhir pemungutan suara, mereka juga melakukan ancaman terhadap anggota komisi di bawahnya. Anggota komisi kecil itu diancam akan dipecat jika mereka menolak untuk bekerja sama dalam pengaturan hasil pemungutan suara.
Pada pemilu tersebut Arroyo menyingkirkan pesaingnya yang juga mantan bintang film paling terkenal di Filipina, mendiang Fernando Poe Jr, dengan selisih lebih dari satu juta suara. Arroyo memang mampu keluar dari masa-masa sulit dari gempuran selama kekuasaannya. Lima kali percobaan Impeachment bahkan tak berhasil menurunkannya.
Tahun 2011 saat selesai masa jabatannya, kepergian Arroyo ke luar negeri dicegah, dan salah satu kejahatan yang dikejar oleh pemerintah dan aparat hukum Filipina adalah kecurangan Pemilu 2004 tersebut.
Nah, kita tak ingin Indonesia disibukkan dengan kecurangan pemilu dan ditangkapnya mantan Presiden karena kecurangan Pemilu.
Oleh: Andi Arief
Judul Asli: Belajar dari Kecurangan Arroyo
*Penulis adalah mantan aktivis mahasiswa dan kini menjabat Staf Khusus Presiden