Kamis, 24 Juli 2014

Di Medan Perang Gaza, Tidak Ada Cyber Army Nasi Bungkus






Dalam salah satu kesempatan bertemu wartawan Israel dan mancanegara, PM Benjamin Netahyahu mengeluh; “Hamas secara telegenic menggunakan orang mati untuk mencapai tujuannya.”



Telegenic adalah sesuatu yang berhubungan dengan mempertontonkan, atau memamerkan, kelebihan atau kekurangan fisik.



Namun bukan itu yang terpenting dari pernyataan Netanyahu. Arsitek pembantaian warga Palestina di Jalur Gaza dalam tiga pekan terakhir ini gundah dengan banjir gambar-gambar akibat tindakan keji pasukannya di media sosial.



Ada cyber army, atau serdadu dunia maya, di medan perang Gaza?



Ya. Mereka bukan Brigade Al-Qassam, yang membalut wajah dan membawa senapan buru sergap. Mereka adalah adalah anak-anak dan remaja dengan senjata smartphone.



Mereka ada di setiap sudut Gaza, gang-gang sempit Khan Younis, dan berkeliaran di pantai. Jika kebetulan tak menjadi korban keganasan bom dan artileri Israel, mereka mengabadikan kekejian zionis.



Caranya, potret semua korban. Jangan asal potret. Usahakan hasil jepretan sebaik mungkin, dan menimulkan kesan ‘ngeri’ bagi orang awam.



Posting semua gambar di media sosial; Facebook, Instagram, Twitter, dan lainnya. Jangan tunggu waktu, karena gambar-gambar itu juga dikonsumsi media online di seluruh dunia.



Yang membedakan dengan cyber army di Indonesia saat kampanye Pilpres, mereka melakukan segalanya dengan risiko mati hari ini demi hari depan tanpa penindasan. Hari depan bukan untuk mereka, tapi untuk generasi masa depan.



Mira Bar Hillel, penulis The Independent, mengatakan Israel tidak menyadari betapa segalanya telah berubah dibanding aksi terakhir mereka di Gaza lima tahun lalu.



“Lima tahun lalu, tidak setiap kematian bisa dilaporkan,” tulis Bar Hillel. “Kini, setiap kematian akibat bom Israel bisa dilaporkan kepada dunia.”



Ada gambar-gambar yang terlalu mengerikan untuk ditampilkan di televisi, tapi tersedia di media sosial. Mulai dari anak-anak yang kehilangan anggota badan, kepala, atau hangus terbakar, serta ibu yang membawa mereka di di pelukan.



Penembakan empat remaja Palestina di pantai, yang ditembak AL Israel mungkin yang paling menarik. Ada yang menyebut gambar ini hasil rekayasa, tapi seorang wartawan memberi kesaksian bahwa gambar itu benar.



Bukan hanya gambar. Ada yang melengkapi diri dengan kamera untuk merekam bom jatuh, atau suasana kehancuran.



Berbeda dengan Brigade Al-Qassam, cyber army di Gaza tidak pernah mengklaim hasil kerjanya. Tidak pula ketika ribuan orang di kota-kota di Eropa, Amerika, dan Asia, menggelar aksi protes pro-Palestina.



Padahal, menurut penulis Nabila Pathan, cyber army yang menggerakan ratusan ribu orang itu. Publik Eropa tidak lagi digerakan oleh koran dan televisi, yang 90 persen berpihak ke Israel.



Namun, selalu ada cara bagi televisi dan koran untuk melawan. BBC, misalnya, mengatakan banyak gambar di media sosial adalah reproduksi dari konflik masa lalu. Paul Mason, dari Channel4 News, meminta pengguna media sosial tidak terkecoh dengan gambar-gambar itu.



Keduanya mungkin benar. Namun, ketika televisi, koran, dan media online tak bisa dipercaya, apa pun yang disajikan media alternatif akan dikonsumsi publik.



Selene Gomez, misalnya, tidak mungkin menulis ‘Pray for Gaza’ di Twitter-nya jika lebih dulu menyaksikan siaran televisi di AS dan Eropa.



Mereka, cyber army di Gaza, tidak berjuang untuk nasi bungkus.















































Sumber:
inilah